Senin, 13 November 2023

Kuasa Stigma dan Represi Ingatan

 



Judul Buku: Kuasa Stigma dan Represi Ingatan
Penulis: St. Tri Guntur Narwaya
Editor: Dian Yanuardi
Penerbit: Kunca Wacana
Ukuran: 14 x 21 cm, xxii + 222 hlm
Terbit: November 2023


Memonopoli sejarah adalah salah satu cara untuk menguasai ingatan dan pengetahuan masyarakat. Manifestasi inilah yang disebut Althusser sebagai mekanisme ’aparatus ideologis’. Ia menggiring kepatuhan dengan sukarela. Ia bekerja pada ranah-ranah gagasan, pengetahuan dan kesadaran sublim masayarakat. Jika massa percaya buta yang dituturkan ’sejarah resmi’, sudah cukup menjadi modal ’loyalitas’. Kekuasaan tidak lagi perlu me perlurusan sejarah nunjukan rupa angker dengan gertakan senjata. Apa yang dibayangkan Michel Foucault bisa menjadi berguna. Pengetahuan sangatlah  efektif membangun kepatuhan sukarela. Oleh sebabnya jika sejarah adalah soal penguasaan pengetahuan, maka bagi kekuasaan, monopoli pengetahuan tentu saja penting untuk dirawat dan dijaga walau apapun resikonya. 

Kekuasaan sering berjalan tidak dalam garis lurus. Kekuasaan bisa menyebar pada seluruh pola interaksi dan relasi massa. Keragaman struktur, sistem dan aktor menyebabkan kekuasan lihai untuk beroperasi. Dari kerja paling ’vulgar’ sampai yang ’sublim’, bisa dilakukan. Bertahannya ’stigma’ beroleh dari interaksi keduanya. Stigma butuh harapan sekaligus ketidakpercayaan. Ia butuh mesin ’ketakutan’ sekaligus ’harapan’ tempat berlindung. Ia butuh kuatnya pemaksaan tetapi sekaligus ruang penghiburan. Seperti mesin iklan, ia bisa mengabarkan penyakit sekaligus obat penenangnya. Dia bisa memprovokasi ketakutan dan sekaligus menciptakan kecanduan. Batas antara ’yang takut’ dan ’yang patuh’ terkadang tumpang tindih.

Relevansi penting “kesadaran sintagmatik” dalam analisis sosial kemanusiaan adalah memberikan kesadaran masyarakat untuk tidak letih mencari dalam upaya merekonstruksi  tanda. Dengannya, setiap tanda akan bermakna dan bisa diterima secara rasional. Mematahkan kuasa wacana bisa dikerjakan dengan membuka ruang dan kesempatan semua orang untuk mampu bertutur secara terbuka dan demokratis. Tutur kebenaran tanpa dominasi perlu terusmenerus dikembangkan. Sehingga ‘kesadaran simbolik’, ‘kesadaran paradigmatik’. Dan ‘kesadaran sintagmatik’ mampu menjadi sarana yang positif untuk menemukan kebermaknaan setiap makna sejarah. Tentu proses ini tidak sebentar. Dalam prakteknya, tindakan ini akan bersentuhan dengan tanda-tanda lain yang juga berkembang. Ia tidak berjalan dalam alur yang linier tetapi selalu berdialektika  dengan berbagai relasi tanda. 

Lebih jauh dari apa yang sudah diletakan Roland Barthes, gagasan buku ini ingin memperluas analisis bagaimana ‘dominasi tanda’ dipraktikan sebagai modus paling efektif untuk membangun ‘relasi asimetris kekuasaan’. Gagasan buku ini berangkat dari pengamatan perkembangan ‘tanda’ dan ‘teks’ secara historis. Tidak sekedar menjangkau problem internal teks, tetapi memperluas pada pengaruh konteks historis. Secara khusus, berangkat dari setting sosial historis tersebut, buku ini secara ilmiah berharap bisa mengurai dengan mendalam praktik ‘pelanggengan’ wacana ‘antikomunis’. Bagaimana teks, wacana, simbol-simbol dan lambang-lambang telah direproduksi, didistribusikan dan menjalar teresepsi dalam masyarakat adalah pengamatan pokoknya. Buku ini ingin juga melihat bagaimana ‘korban’ menginterpretasi ulang terhadap stigma yang dilabelkan pada mereka.