Selasa, 10 Desember 2019

Menulis adalah Tindakan Integral, sebuah Epilog



 Oleh Indro Suprobo


Buku kumpulan karya tulis seminaris (siswa-siswa Seminari atau sekolah calon pastor) ini diberi judul Menulis untuk Mendidik Diri dan Berbagi, karena seluruh proses menuliskan karya ini merupakan proses menggali bahan-bahan pembelajaran (lessons learned) yang dapat digunakan untuk mendidik diri sendiri dalam tiga aspek dasar, yakni sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan) dan scientia (kecerdasan), yang pada gilirannya memberi manfaat bagi orang lain untuk mendidik dirinya sendiri juga.  Seperti kata pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, demikianlah sifat dasar yang dapat ditemukan dari proses menulis. Melalui satu aktivitas menulis, seseorang dapat menggapai dua hal sekaligus yakni mendidik diri sendiri dan berbagi kepada orang lain.

Lebih mendasar dari itu, aktivitas menulis adalah sebuah tindakan integral karena senantiasa melibatkan tindakan-tindakan fundamental yang lain. Seseorang yang hendak mengembangkan kapasitas menulis sebagai gaya atau jalan hidupnya, paling tidak ia musti mengembangkan kapasitas-kapasitas lain seperti membangun keheningan (silentium), membaca (lectio), menimbang-nimbang (discretio), mengambil jarak (distantia), dan terlibat secara empatik dalam pengalaman atau peristiwa atau isu tertentu (empathetic involvement). Semua elemen itu akan berada dalam satu tarikan nafas yang dibutuhkan oleh seorang penulis, lebih-lebih jika ia hendak menuliskan sesuatu yang penting, untuk memperjuangkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan keindahan dalam kehidupan. 

Orang yang mencintai aktivitas menulis, pada umumnya juga mencintai aktivitas membangun keheningan agar ia dapat mengambil jeda dan jarak atas pengalaman atau peristiwa, agar ia dapat mencermati hal-hal penting yang pantas dicermati, agar ia dapat mempelajari apa yang pantas dipelajari, mewaspadai dan mengkritisi apa yang dapat mengelabuhi pikiran, lalu mengambil nilai dasar yang perlu untuk melandasi pilihan dan keputusan yang diambil, lalu merumuskannya dalam tulisan. Agar terus-menerus dapat melakukan pertimbangan yang memadai dan matang, orang yang mencintai aktivitas menulis dengan sendirinya akan senantiasa melengkapi diri dengan informasi dan penge-tahuan yang dibutuhkan. Oleh karena itu aktivitas menulis akan membutuhkan aktivitas membaca. 

Informasi dan pengetahuan, selain diperoleh dari aktivitas membaca buku, juga dapat diperoleh dari aktivitas membaca dan mendengarkan secara langsung dari pengalaman di mana ia terlibat. Menggali informasi dari pengalaman langsung biasa disebut sebagai riset atau riset aksi. 

Seluruh elemen tindakan fundamental itu akan saling melengkapi dan saling membutuhkan serta berkorelasi secara sirkular (circle), sehingga semakin lama semakin maju dan berkualitas. Oleh karena itu, aktivitas menulis adalah sebuah tindakan integral yang penting, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. 

Pantas disyukuri bahwa Seminari Menengah Mertoyudan secara setia dan konsisten telah terus-menerus melatih para seminaris untuk membiasakan diri dengan seluruh elemen tindakan integral ini sejak dari hari pertama. Silentium (keheningan), lectio (membaca), menulis refleksi, dan keterlibatan empatik dalam pengalaman langsung seperti offisio (tugas-tugas dan tanggung jawab), ekstra kurikuler, Aquila (penerbitan majalah tiga bulanan), opera (kerja tangan), malam musik seminari, malam kreativitas, sidang akademi (latihan menulis makalah-presentasi-diskusi), dsb, adalah wujud-wujud konkret yang pantas dinikmati sebagai latihan dasar menjalani tindakan integral ini. Pada saat melakukannya sebagai bagian dari rutinitas di Seminari, sebagian seminaris barangkali menemui rasa malas atau tak menangkap manfaat fundamentalnya bagi hidup. Namun, setelah sekian tahun kemudian, bahkan puluhan tahun sesudahnya, manfaat itu tak akan dapat disangkal. Untuk hal itu, saya adalah saksinya. 

Sebagai sebuah tindakan integral, aktivitas menulis yang dihayati sebagai gaya dan jalan hidup, boleh juga disebut sebagai laku spiritual yang terus-menerus untuk membangun hidup menjadi semakin bertumbuh, mendalam dan berkualitas. Aktivitas menulis menjadi latihan rohani yang terus-menerus (on-going spiritual exercise) yang menjagai diri agar senantiasa menjadi manusia keheningan yang terus-menerus belajar, mendengarkan, menimbang, merumuskan, dan mengambil tindakan untuk terli-bat di dalam kehidupan secara berkualitas. 

Semoga, buku Menulis untuk Mendidik Diri dan Berbagi ini, menjadi bagian dari latihan panjang menjalani tindakan integral, on-going spiritual exercise, bagi para seminaris dan membawa kepada rasa syukur dan rasa cinta demi pertumbuhan diri yang semakin maju, mendalam dan berkualitas. Semoga para seminaris semakin mencintai aktivitas menulis sebagai jalan yang sunyi namun membahagiakan, menyelamatkan, dan membebaskan, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama.