Rabu, 20 Mei 2020

Inner Journey, Selangkah Lebih Dalam



Penulis: Ruy Pamadiken
Editor: Indro Suprobo
Terbit: Mei 2020
Ukuran: 14 x 20 cm, xviii + 122 hlm

Inner Journey, Selangkah Lebih Dalam, adalah buku kedua yang ditulis oleh mas Ruy Pamadiken. Kali ini, beberapa artikel di bagian awal buku ini, ditulis bersama dengan ibu Rerie Lestari Moerdijat. Tampaknya, kedua penulis ini memiliki kemiripan baik dalam gaya penulisan maupun tingkat kedalaman pemaknaan. Keduanya melandaskan diri pada pengalaman nyata.

Setelah membaca dan mencermati kisah-kisah yang tertuang di dalam buku ini, ada satu hal yang saya pelajari sebagai pembelajaran penting, yakni keberanian menghadapi diri sendiri di dalam keheningan. Kehidupan modern yang menyediakan semakin banyak kemudahan, yang memperpendek jarak karena perkembangan transportasi dan media komunikasi, sekaligus memperluas pilihan-pilihan, pada gilirannya juga menciptakan ketakutan-ketakutan dan kecemasan. Salah satu ketakutan dan kecemasan yang paling menggentarkan untuk manusia modern adalah ketakutan untuk menghadapi diri sendiri dalam keheningan.

Ada banyak orang, meskipun tidak semua, yang merasa takut ketika menghadapi situasi tak ada pembicaraan, tak ada postingan di wa grup, ketika tak mengaktifkan televisi, ketika tak ada musik yang diputar, ketika tak ada berita yang dibaca, didengarkan atau ditonton, ketika tidak melakukan aktivitas apapun kecuali menghadapi dirinya sendiri. Keheningan yang menjadi kesempatan paling baik untuk bertemu dengan diri sendiri, untuk masuk dalam kesadaran penuh tentang diri, seringkali justru menjadi hal yang menakutkan dan menimbulkan kecemasan. Ketika menghadapi keheningan dan diri sendiri, sebagian besar orang, cenderung ingin segera melakukan kesibukan tertentu.

Mengapa demikian? Karena orang tak terbiasa dan tidak terlatih untuk menghadapinya. Menghadapi diri sendiri dalam keheningan, memasuki kesadaran penuh tentang dirinya, atau dalam judul buku ini dirumuskan dengan melangkah lebih dalam, merupakan pengalaman produktif yang membutuhkan latihan terus-menerus sehingga orang merasa terbiasa dan dapat menikmatinya. Pengalaman masuk ke kedalaman keheningan perlu dilatihkan karena di dalamnya orang akan menghadapi banyak hal yang seringkali tak diinginkannya, yakni realitas diri yang tak ideal, menghadapi gerakan-gerakan ketidaksadaran yang selama ini menuntun dan memotivasi sebagian besar pilihan-pilihan cara berpikir, bersikap dan bertindak. Oleh karena itu, menghadapi diri sendiri dalam keheningan membutuhkan keberanian.

Buku ini mengajak para pembaca untuk belajar melepaskan ketakutan dan kecemasan, lalu menyalakan keberanian untuk bertemu dengan diri sendiri dalam keheningan yang produktif. Hasilnya, akan ada banyak sekali kebaharuan, keindahan, pertumbuhan, kedamaian, keharuan, ketulusan, ketakjuban, tamparan, penyadaran, perubahan, dan transformasi yang ditemukan sebagai buah pembelajaran. Yang paling dahsyat, jika sekali saja seseorang telah berani memasuki kedalaman diri dengan seluruh tantangannya, ia akan semakin berani di hari-hari kemudian. Dengan modal itu, ia akan semakin berani menghadapi peristiwa-peristiwa di dalam hidupnya dan membacanya secara lebih jeli dan cermat sehingga menjadi peristiwa yang bermakna meskipun sangat sederhana. Siapapun yang takut menghadapi diri sendiri dan keheningan, pada umumnya cenderung memilih lari ketika menghadapi kenyataan. Buku ini mengajak pembaca untuk berani menghadapi keduanya.

Indro Suprobo - Editor

Rabu, 19 Februari 2020

Meretas Batas Antara Matematika dan Sastra



Secara pribadi, saya bersyukur telah terbit lagi sebuah antologi puisi karya seorang guru di DIY. Tepatnya, antologi puisi itu lahir dari rahim kreasi Ibu Fiati Yuwananingsih yang kelahiran Gunung-kidul dan kini bekerja sebagai guru mata pelajaran Matematika di SMPN 4 Tempel, Sleman. Dalam antologi ini, baik sebagai ibu maupun guru, beliau berhasil mencipta karya puisi sebanyak 41. Sebuah prestasi yang layak dicatat dan diapresiasi oleh para guru maupun siswa, baik di SMPN 4 Tempel, Sleman, maupun seluruh DIY.

Persoalannya, dalam proses belajar-mengajar di SMP/SMU, muncul berbagai stigma yang nyaris berkembang jadi mitos. Con-tohnya, mengenai matematika. Mata pelajaran ini sering dianggap “momok” gara-gara, konon, memelajari dan menguasainya sukar sekali. Akibatnya, matematika jarang disukai, bahkan cenderung “dibenci”. Demikian bencinya siswa-siswa dengan mata pelajaran ini sampai guru-guru matematika pun kadang ikut kena getahnya. Hubungan siswa dengan mereka jadi kurang akrab walau pribadi para guru matematika jelas tidak sekaku dan seangker mata pelajaran yang diampunya. 

Contoh kedua, pelajaran mengarang. Mulai siswa-siswa SMP/SMA, mahasiswa, guru, dosen, hingga masyarakat umum, banyak yang menganggap mengarang karya sastra (misalnya: puisi, cerpen, novel) juga sukar. Padahal, sastra sudah diperkenalkan kepada para siswa sejak Sekolah Menengah (meskipun menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia), sebagaimana matematika, IPA, IPS, olahraga, agama, dan lain-lain. Menurut mereka, membuat puisi seperti diciptakan Sapardi Djoko Damono, novel karya Y.B. Mangunwijaya atau cerpen yang ditulis Kuntowijoyo, ternyata tidak gampang. Bertolak belakang sekali dengan pernyataan sas-trawan yang juga jurnalis terkenal, Arswendo Atmowiloto, dalam bukunya: “Mengarang Itu Gampang”. 

Dua kasus di atas memberikan gambaran umum mengapa dunia karang-mengarang (mencipa atau kreativitas) dan matematika tidak banyak diminati. Antara lain:

Karena matematika dan mengarang dianggap sukar, banyak kalangan (siswa/mahasiswa/guru/masyarakat umum) jadi tidak menyukainya. Karena kurang suka, mereka enggan belajar sehing-ga dari waktu ke waktu pengetahuan dan ketrampilannya tidak berkembang. 

Mereka yang mengatakan mengarang itu gampang, tentu sudah mumpuni atau terampil. Sedangkan yang menganggap me-ngarang itu sulit atau sukar, jelas karena dirinya tidak (belum) bisa melakukannya. Dengan demikian, ukuran bahwa mencipta karya sastra itu sukar atau tidak sukar, sangat tergantung dari ke-mampuan/ketrampilan pribadi masing-masing.

Karena mengarang (sastra) hanya menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, banyak siswa jadi menganggap me-ngarang itu kurang penting (kurang perlu) dibanding Bahasa Inggris, Matematika, IPA, Biologi, dan lain-lain. Juga karena me-ngarang hanya jadi mata pelajaran, bukan mengarah ke dalam praktik.

Matematika dianggap sukar karena memahami soal dan rumusnya sulit. Sedangkan mengarang dianggap sukar karena hasil karangan yang dibuat kualitasnya sulit menyamai kualitas karya pengarang yang dijadikan panutan. Baik yang sudah dibukukan atau yang dimuat lembar kebudayaan koran mingguan maupun majalah sastra.

Mereka yang menganggap mengarang itu sukar (dan benar-benar kesulitan melakukannya), besar kemungkinan modal kecer-dasan untuk mengarang sangat minim. Menurut teori kecerdasan ganda dari Howard Gardner dalam Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligence (1983), ada tujuh tipe kecerdasan yang dimiliki manusia dan belakangan bertambah satu lagi. Yaitu: 1) Verbal/linguistic intelligence atau kecerdasan linguistik (bahasa), 2) Musical/rhytmic intelligence atau kecerdasan musikal, 3) Logical/mathematical intelligence atau kecerdasan logika-matematika, 4) Visual/spatial intelligence atau kecerdasan visual/spasial, 5) Bodily/kinaesthetic intelligence atau kecerdasan ragawi/kinestetik, 6. Intrapersonal intelligence atau kecerdasan intrapersonal, 7) Interpersonal intelligence atau kecerdasan interpersonal, dan 8) Naturalistic intelligence, keahlian mengkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungannya. 

Dari teori ini, dapat dibayangkan bahwa proses mengarang utamanya sangat memerlukan kecerdasan verbal/linguistic intelligence, kecerdasan intra dan interpersonal, serta kecerdasan lainnya. Kecuali (mungkin) bodily/kinaesthetic intelligence karena mengarang (mencipta) cenderung diam. Masih ditambah dimilikinya kepekaan pribadi, wawasan yang luas, kemampuan berbahasa, kemampuan berpikir dan kesabaran yang cukup untuk menunjang proses kreatif kepenulisannya. 

***

Ternyata, teori yang disampaikan Howard Gardner di atas nyaris dipatahkan, atau tidak berlaku bagi Ibu Fiati Yuwananingsih. Dengan latar pendidikan serta profesinya sebagai guru matematika, beliau justru mampu mencipta puisi, yang manakala dicermati karya-karyanya sudah menunjukkan pencapaian yang cukup berhasil. Karena dalam puisi-puisinya, terasa beliau sudah menemukan “momentum puitik” yang diwujudkan dalam bahasa (teks) yang singkat, padat, mempunyai kandungan nilai estetika dan ke-manusiaan tinggi. 

Sementara puisi-puisi dalam antologi ini juga telah menerapkan teknik penulisan puisi yang lumayan baik dan benar. Yakni, menya-takan suatu persoalan (permasalahan) secara tidak langsung dengan menggunakan bahasa puitik (bukan verbal) atau kata-kata yang bernilai rasa tinggi. Misalnya, melalui ungkapan (imaji), serta pemakaian gaya bahasa. Antara lain dengan memraktikkan penggunaan: 1) distorting of meaning (penyimpangan arti, seperti penggunaan ambiguitas dan kontradiksi), 2) displacing of meaning (penggantian arti, misalnya dengan menggunakan metafor dan metonimia), 3) creating of meaning (pengorganisasian teks di luar lingkup linguistik, seperti persajakan dan rima). 

Selanjutnya, manakala dikaji menggunakan kriteria penulisan puisi yang lazim dipakai dalam berbagai even lomba, karya Ibu Fiati Yuwananingsih dalam antologi ini juga telah mengisyaratkan adanya kelayakan ungkapan sebagai puisi yang baik. Misalnya, puisi yang baik tersebut memiliki kriteria: 

Memiliki harmoni antara wujud dan isi. Artinya, terjadi keseimbangan, atau ikatan yang indah dan serasi antara pesan yang disampaikan dengan cara menyampaikannya. Contohnya pada puisi “Layang-layang”. Pada bait pertama terdapat ungkapan: “Di pinggir lapangan aku duduk sendiri/Menikmati layang-layang yang menari-nari di tempat tinggi/Dikendalikan dengan menarik ulur tali pengendali agar hembusan angin dapat diimbangi/Sama dengan manusia/Diperlukan pengendalian diri menghadapi kehidupannya/Agar tidak terhempas karena masalah yang diterima.”

Pilihan dan penggunaan kata, bahasa, serta ungkapannya terasa pas (tepat). Sehingga tidak menjadi puisi gelap (obscure) atau sangat verbal, melainkan bersifat transparan. Contohnya pada puisi “Museum Vulkanologi”. Pada bait terakhirnya disajikan ungkapan yang pas dan serasi, berbunyi: ”Dengan melihat foto-foto peristiwa letusan dahsyat Merapi/ Menggunakan miniatur gunung Merapi/Ia menyusuri aliran lahar dengan jari/Aku tunjukkan rute pendakian yang resmi/Barangkali saatnya nanti ia ingin mencapai puncak Merapi.”

Greget kepenyairan terasa. Puisi memiliki roh atau power (kekuatan/élan vital) yang berasal dari energi penyair yang mewujud (mengejawantah) ke dalam berbagai unsur ke-puisian yang diciptakan. Contohnya pada puisi “Benteng Vredenburg”. Di sana terpapar jelas kekuatan penyair dalam menyatakan pesan menggunakan ungkapan puitik pribadinya. Artinya, dia tidak sedang menulis prosa atau nasihat, melainkan benar-benar menuangkan ide-idenya dalam bentuk puisi. “Jangan hanya batik dan pernak-pernik yang kau buru/Cobalah cari cerita seru untuk buah tanganmu/ Masuklah ke beteng Vredenburg, akan kau dapatkan itu/Kau dapat melihat film dokumenter di ruang pengenalan/Dengan media interaktif bisa juga memilih penggalan sejarah yang kau inginkan/Diorama-diorama menggambarkan perjuangan memperoleh kemerdekaan Indonesia.”

Terbayang otentisitas penyajian. Pesan maupun gaya kepenulisannya murni hasil penggalian kreativitas pribadi, bukan plagiasi. Artinya, memiliki orisinalitas yang tidak terdapat pada puisi karya orang lain. Contohnya pada puisi “Maafkan Aku”. Di sini ada ungkapan khas yang terasa otentik digali dan ditemukan dari hasil kreativitas pribadi. Sebuah pernyataan yang berbunyi: “Guruku/maafkan aku/ Jika semua itu aku lakukan padamu/Doaku semoga engkau selalu sabar dan tegar dengan sikapku/Kelak surga menjadi tempat tinggalmu.”

Ada pandangan (baru) yang ditawarkan. Artinya, tidak melakukan pengulangan (duplikasi) terhadap tema atau pemikiran yang telah digarap banyak orang. Contohnya pada puisi “Cadar”. Di sini terpampang jelas pandangan uniknya mengenai fenomena kehidupan yang ditemui. Pada bait pertama diutarakan: “Selalu bersama/Bergandeng tangan menyusuri jalan berdua/Menikmati indahnya semesta yang tiada duanya/Di bumi khatulistiwa.” Sedang pada bait terakhir disajikan realitas baru yang menarik: “Bumi diciptakan bundar/Setelah kita berpencar, kita berpapasan tanpa sadar/Hati pun bergetar/Namun mata tak mampu menembus wajah bercadar.”

Merangsang renungan lebih jauh tentang kehidupan. Memberikan pencerahan terhadap pembaca, sehingga pembaca terdorong untuk melakukan pemikiran positif ke depan. Contohnya pada puisi “Saat Jatuh”. Pada bait terakhirnya muncul ungkapan yang merangsang pencerahan sekaligus mirip petuah: “Kamu dapat mengingatkan diri sendiri/Melangkah hati-hati/Agar tidak terulang jatuh kembali.”

Demikian catatan singkat mengenai puisi-puisi Ibu Fiati Yuwananingsih dalam antologi ini. Semoga menjadi referensi literasi positif bagi para guru lain, juga para siswa, untuk mengukiti jejak-tapak beliau dalam berkreasi di bidang sastra, khususnya puisi.


Iman Budhi Santosa, adalah sastrawan

tinggal di Yogyakarta


Selasa, 10 Desember 2019

Menulis adalah Tindakan Integral, sebuah Epilog



 Oleh Indro Suprobo


Buku kumpulan karya tulis seminaris (siswa-siswa Seminari atau sekolah calon pastor) ini diberi judul Menulis untuk Mendidik Diri dan Berbagi, karena seluruh proses menuliskan karya ini merupakan proses menggali bahan-bahan pembelajaran (lessons learned) yang dapat digunakan untuk mendidik diri sendiri dalam tiga aspek dasar, yakni sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan) dan scientia (kecerdasan), yang pada gilirannya memberi manfaat bagi orang lain untuk mendidik dirinya sendiri juga.  Seperti kata pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, demikianlah sifat dasar yang dapat ditemukan dari proses menulis. Melalui satu aktivitas menulis, seseorang dapat menggapai dua hal sekaligus yakni mendidik diri sendiri dan berbagi kepada orang lain.

Lebih mendasar dari itu, aktivitas menulis adalah sebuah tindakan integral karena senantiasa melibatkan tindakan-tindakan fundamental yang lain. Seseorang yang hendak mengembangkan kapasitas menulis sebagai gaya atau jalan hidupnya, paling tidak ia musti mengembangkan kapasitas-kapasitas lain seperti membangun keheningan (silentium), membaca (lectio), menimbang-nimbang (discretio), mengambil jarak (distantia), dan terlibat secara empatik dalam pengalaman atau peristiwa atau isu tertentu (empathetic involvement). Semua elemen itu akan berada dalam satu tarikan nafas yang dibutuhkan oleh seorang penulis, lebih-lebih jika ia hendak menuliskan sesuatu yang penting, untuk memperjuangkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan keindahan dalam kehidupan. 

Orang yang mencintai aktivitas menulis, pada umumnya juga mencintai aktivitas membangun keheningan agar ia dapat mengambil jeda dan jarak atas pengalaman atau peristiwa, agar ia dapat mencermati hal-hal penting yang pantas dicermati, agar ia dapat mempelajari apa yang pantas dipelajari, mewaspadai dan mengkritisi apa yang dapat mengelabuhi pikiran, lalu mengambil nilai dasar yang perlu untuk melandasi pilihan dan keputusan yang diambil, lalu merumuskannya dalam tulisan. Agar terus-menerus dapat melakukan pertimbangan yang memadai dan matang, orang yang mencintai aktivitas menulis dengan sendirinya akan senantiasa melengkapi diri dengan informasi dan penge-tahuan yang dibutuhkan. Oleh karena itu aktivitas menulis akan membutuhkan aktivitas membaca. 

Informasi dan pengetahuan, selain diperoleh dari aktivitas membaca buku, juga dapat diperoleh dari aktivitas membaca dan mendengarkan secara langsung dari pengalaman di mana ia terlibat. Menggali informasi dari pengalaman langsung biasa disebut sebagai riset atau riset aksi. 

Seluruh elemen tindakan fundamental itu akan saling melengkapi dan saling membutuhkan serta berkorelasi secara sirkular (circle), sehingga semakin lama semakin maju dan berkualitas. Oleh karena itu, aktivitas menulis adalah sebuah tindakan integral yang penting, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. 

Pantas disyukuri bahwa Seminari Menengah Mertoyudan secara setia dan konsisten telah terus-menerus melatih para seminaris untuk membiasakan diri dengan seluruh elemen tindakan integral ini sejak dari hari pertama. Silentium (keheningan), lectio (membaca), menulis refleksi, dan keterlibatan empatik dalam pengalaman langsung seperti offisio (tugas-tugas dan tanggung jawab), ekstra kurikuler, Aquila (penerbitan majalah tiga bulanan), opera (kerja tangan), malam musik seminari, malam kreativitas, sidang akademi (latihan menulis makalah-presentasi-diskusi), dsb, adalah wujud-wujud konkret yang pantas dinikmati sebagai latihan dasar menjalani tindakan integral ini. Pada saat melakukannya sebagai bagian dari rutinitas di Seminari, sebagian seminaris barangkali menemui rasa malas atau tak menangkap manfaat fundamentalnya bagi hidup. Namun, setelah sekian tahun kemudian, bahkan puluhan tahun sesudahnya, manfaat itu tak akan dapat disangkal. Untuk hal itu, saya adalah saksinya. 

Sebagai sebuah tindakan integral, aktivitas menulis yang dihayati sebagai gaya dan jalan hidup, boleh juga disebut sebagai laku spiritual yang terus-menerus untuk membangun hidup menjadi semakin bertumbuh, mendalam dan berkualitas. Aktivitas menulis menjadi latihan rohani yang terus-menerus (on-going spiritual exercise) yang menjagai diri agar senantiasa menjadi manusia keheningan yang terus-menerus belajar, mendengarkan, menimbang, merumuskan, dan mengambil tindakan untuk terli-bat di dalam kehidupan secara berkualitas. 

Semoga, buku Menulis untuk Mendidik Diri dan Berbagi ini, menjadi bagian dari latihan panjang menjalani tindakan integral, on-going spiritual exercise, bagi para seminaris dan membawa kepada rasa syukur dan rasa cinta demi pertumbuhan diri yang semakin maju, mendalam dan berkualitas. Semoga para seminaris semakin mencintai aktivitas menulis sebagai jalan yang sunyi namun membahagiakan, menyelamatkan, dan membebaskan, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama.

Rabu, 23 Oktober 2019

Pro Eksistensi dan Konsistensi



Judul: Pro Eksistensi dan Konsistensi
Penulis: Indro Suprobo
Terbit: Oktober 2019
Ukuran: 14 x 20 cm, xvi + 362 hlm

Buku Pro-Eksistensi dan Konsistensi yang berada di tangan pembaca ini merupakan catatan-catatan reflektif atas sikap dan keberpihakan penulis terhadap nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu terutama terkait penghormatan terhadap martabat kemanusiaan, empati dan dukungan terhadap mereka yang terpaksa mengalami kemalangan, penderitaan dan pengasing-an, ketulusan dalam membangun persahabatan dan persaudaraan dalam begitu banyak perbedaan yang nyata, keterbukaan dan kerendahan hati untuk menye-lami spiritualitas dan religiositas agama-agama serta kepercayaan, dan sikap kritis terhadap semua hal yang bersifat korup dan manipulatif.

Semoga catatan reflektif ini sungguh mencerminkan pilihan keberpihakan dan loyalitas kepada nilai-nilai fun-damental kehidupan yang dapat membantu setiap orang untuk bertumbuh dan berkembang sebagai manusia yang bermartabat dan berharga di hadapan Tuhan, apapun per-bedaan dan keunikan yang dimilikinya. Dengan demikian Pro-eksistensi dan konsistensi adalah prinsip yang berpihak terutama kepada nilai fundamental kehidupan, bukan kepada orang, kelompok, atau golongan apapun.

Jumat, 18 Oktober 2019

Inner Journey



Penulis: Ruy Pamadiken
Editor: Indro Suprobo
Terbit: Oktober 2019
Ukuran: 14 x 20, xiv + 78 hlm

Raphael Udik Yunianto atau RUY Pamadiken, adalah seorang juru kamera kehidupan, yang sanggup memotret pengalaman dan peristiwa, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Oleh karena itu, buku yang disusunnya ini boleh disebut sebagai album kenangan, hasil bidikan kameranya.

Keahlian seorang juru kamera yang seringkali tidak dimiliki oleh orang lain adalah kepekaannya untuk melihat nilai yang tersembunyi dalam satu peristiwa. Orang lain barangkali tidak peduli kepada peristiwa itu dan tak melihat potensi tentang keindahan dan makna di dalamnya. Bagi seorang juru kamera, setiap peristiwa selalu merupakan undangan untuk ditangkap, dilihat lebih mendalam, dan didengarkan dalam kebeningan. Ketika "saat" atau momentum yang ditangkapnya itu dibagikan kepada orang lain, ia telah menjadi percikan peristiwa yang bermakna, dan bersuara, sehingga orang lain ikut menangkap dan mendengarkan isi terdalamnya. Bidikan kamera itu lalu menghantar orang lain menuju pengertian lebih mendalam, ketertarikan, perasaan yang menggetarkan, tremendum et fascinosum, kebahagiaan yang lembut, keharuan yang menyusup dalam diam, pengampunan, belas kasih, bahkan menggerakkan orang untuk melakukan tindakan berkualitas dan menghidupkan, moving and motivating.

Hasil bidikan sang juru kamera, pada gilirannya juga mempunyai fungsi sebagai undangan bagi setiap orang untuk berhenti sejenak, memandang, mencermati, memperhatikan, mendalami, mengenali secara lebih baik, merenung, mengunyah, dan menemukan nilai yang tak sempat ditemukannya pada saat peristiwa itu benar-benar berlangsung. Hasil bidikan sang juru kamera, juga merupakan undangan untuk mengambil jarak, membangun distansiasi, mengajak orang untuk melakukan detachment, melepaskan rasa lekat diri yang tak teratur terhadap segala sesuatu, dan menempatkan peristiwa-peristiwa itu di dalam kerangka yang lebih besar, saling terkait, saling terjaring, sehingga tersusunlah sebuah pemahaman yang integral.

RUY PAMADIKEN, sebagai juru kamera peristiwa hidup, telah berupaya membangun galeri pengalaman dan peristiwa melalui buku ini. Buku galeri dan album pengalaman ini sebagai keseluruhan merupakan ajakan kepada setiap orang untuk terlibat secara lebih cermat di dalam pengalaman hidup masing-masing dan menikmatinya, serta merangkainya sebagai sebuah laku spiritualitas integral, yakni spiritualitas hidup yang memandang dan menempatkan pengalaman-pengalaman tidak secara terpisah-pisah atau terkotak-kotak, melainkan saling terhubung, saling memperkaya makna, dan saling mengutuhkan.

Saya percaya, buku album dan galeri pengalaman hidup ini adalah buku yang akan senantiasa nikmat untuk dibaca berulang-ulang dalam banyak kesempatan, terutama dalam keheningan dan kesunyian, karena akan selalu relevan dan menyediakan nilai yang baru serta kaya. Maka pantaslah bahwa buku ini diberi judul Inner Journey, sebuah perjalanan ke dalam menuju kedalaman, karena seluruh isi buku ini mengajak para pembaca untuk semakin berani belajar menghayati silentium, solitudo, bersunyi diri untuk "memasuki pengalaman keheningan agar semakin sanggup mendengarkan isi terdalam dari segala keramaian".

Indro Suprobo, penulis artikel dan editor buku

Kamis, 22 Februari 2018

Begitulah Cinta Bertutur

 


Judul : Begitulah Cinta Bertutur
Penerbit: Kunca Wacana Yogyakarta
Penulis: Iin Mendah
Cetakan: Februari 2018
ISBN: 978-602-74671-4-9
Harga: 40.000
Pemesanan: 081219140028

Buku ini hadir untuk menjadi pelengkap bagi anda pembaca penikmat kata kata indah penuh rasa. Apabila anda belum mampu menikmatinya, saran saya bacalah pelan-pelan, bacalah berulang ulang dan jujur pada perasaan anda. Maka nikmatilah bersama waktu yang anda punya.Waktu akan menjawabnya. Tetaplah merasakan cinta dengan jujur, keindahan hadir dengan kejujuran perasaan. Semesta dihadirkan untuk diolah dengan perasaan jujur untuk dinikmati dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Saya, Iin Mendah, perempuan yang diciptakan dari sebuah keindahan cinta dan meneruskan perasaan cinta dalam alur hidup saya. Saya menimbun kenang-kenangan untuk anak terkasih saya Aurelia Nuansa Damai….selalu dengan indah akan ibu katakan “Ibu sayang Mbak Damai, semesta tahu itu Mbak…terima kasih sudah menjadi anak Ibu yang hebat”.

Semoga buku ini, menyatukan banyak cerita cinta yang saya nikmati lewat mata, dirasakan lewat perasaan saya, dan diejawantahkan dalam tulisan-tulisan ini. Harapan saya buku ini akan menjadikan penghiburan untuk anda, menikmati cinta yang saya rasakan dan semoga anda juga merasakannnya. Terima Kasih untuk anda semua yang sudah menikmati kata-kata dalam buku ini. Selamat menikmati perasaan cinta itu karena begitulah cinta bertutur, “Saya ada dan Saya berkarya”.

Untuk mendapatkan buku ini, silakan kontak langsung kepada Penulis di nomor kontak 081219140028

Kamis, 05 Oktober 2017

Tawa Gadis Padang Sampah



Judul Buku : Tawa Gadis Padang Sampah
Penulis : Ahmad Tohari
Cetakan: Oktober 2017
ISBN: 978-602-74671-3-2
Harga: 40.000

Gaya realisme yang masih sangat setia dianut oleh Ahmad Tohari menjadi langka. Gaya ini juga dipakai oleh Hamsad Rangkuti kelahiran 1943 (73 tahun), yang saat ini sudah tak bisa menulis karena faktor kesehatan fisiknya. Selain gaya penulisan realis yang semakin tersisih, obyek yang ditulis Ahmad Tohari juga semakin tergusur.

........Terjadilah sebuah ironi. Ketika rakyat miskin Indonesia bahkan tuna wisma menyantap mi instan dengan sangat nikmat, sebenarnya mereka tengah membayar upeti kepada para petani gandum di AS. Sebab sebagian besar gandum kita diimpor dari AS. Nasi tergeser, umbi-umbian tergusur. Di DKI Jakarta memang masih bisa dijumpai para penjual pisang rebus dan umbi-umbian, dengan minuman bersantan yang disebut bajigur. Tapi mereka juga makin tersisih. Kalau pun ada peminatnya, mereka justru berasal dari masyarakat kelas menengah, bukan masyarakat di kawasan kumuh lagi. Kereta api dalam cerita pendek ini, tampaknya hanya sekadar “dipinjam” oleh Ahmad Tohari, agar ia bisa bercerita tentang kelompok masyarakat, yang sebentar lagi sudah tak akan pernah kita jumpai di tepi rel kereta api. Mereka akan tersingkir entah ke mana, sama dengan umbi-umbian yang juga tersisih, sama dengan gaya penulisan realis yang makin sedikit penulisnya.

F. Rahardi