Sabtu, 17 September 2022

Subyek yang Senantiasa Bertanya



Judul Buku: Bulan Terbelah, Dia Anakku Walau Bukan dari Benihku
Penulis: Gunawan Sudarsono
Kategori: Novel
Penerbit: Kunca Wacana
Ukuran: 11 x 17 cm, vi + 126 hlm
Terbit: Oktober 2022
Harga: Rp 55.000

Orang-orang yang menyukai proses belajar terus-menerus (on going learning), pada umumnya memiliki kebiasaan untuk senantiasa bertanya, berpikir dan menemukan alternatif jawaban. Pada umumnya pula, orang-orang yang tergolong dalam kategori ini, memiliki kebiasaan untuk mengambil jarak, menunda persetujuan, membuka kemungkinan terhadap cara-cara baru dalam membangun pemahaman, serta dengan gembira hati memberikan ruang bagi perbedaan pandangan. Semuanya itu sudah menjadi "laku", jalan hidup (the way of life), atau gaya hidup (life style). Yang paling menarik, orang-orang seperti ini, tak pernah merasa malu untuk mengakui bahwa ia belum memahami sesuatu. Maka ia tak pernah ragu ketika suatu saat harus mengatakan "maaf, saya tidak tahu tentang hal itu".

Gunawan Sudarsono, adalah salah satu contoh konkretnya. Sejak masih aktif sebagai guru sastra, ia selalu suka bertanya kepada para muridnya, mengajaknya untuk berpikir dan mencoba merumuskan alternatif jawaban. Sebaliknya, ia juga selalu dengan gembira membuka ruang bagi siapapun untuk bertanya, atau menyampaikan pandangan yang berbeda. Berdialog, bertukar pikiran, berbagi gagasan, saling mempertanyakan, saling melengkapi pandangan, saling membuka kemungkinan-kemungkinan, adalah ruang yang ditawarkan dan disediakannya sejak semula. Semangat untuk saling belajar tiada henti, itulah karakter yang sejak dini ia inisiasi.

Karena telah menjadi "laku", masa pensiun tidak membuatnya berhenti untuk berpikir dan bertanya, serta menemukan beragam jawaban yang mungkin beraneka rupa. Ia tetap menjadi pribadi yang produktif, terus bertumbuh, menciptakan makna dan berkarya. Bulan Terbelah, novel kecil yang ditulisnya, adalah salah satu bukti dan hasil nyata, sekaligus kesaksian utama tanpa dusta.

Sub judul yang dirumuskannya, Dia Anakku Walau Bukan dari Benihku, merupakan tema utama yang menjadi sarana baginya untuk mengajak semua pembaca untuk bertanya, berpikir dan berupaya merumuskan alternatif jawaban. Melalui novel ini, ia mengajak para pembacanya untuk mencoba memasuki peran dalam diri tokoh-tokoh utamanya, Herman dan Kadarwati, memasuki pengalaman, kenyataan, persoalan serta dilema yang dihadapinya.

Saat memasuki atau menghadapi pengalaman, peristiwa, kenyataan yang tak sesuai impian, dambaan mendalam, relasi kuasa, kegelisahan, rasa bersalah, dan pandangan-pandangan masyarakat sekitar maupun pandangan keluarga yang disuguhkan dalam novel ini, setiap pembaca diajak untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Meskipun melalui para tokohnya, Gunawan Sudarsono telah menyodorkan pilihan-pilihan, keputusan, serta cara berpikir dalam menghadapi kenyataan, ini tidak berarti bahwa ia telah secara final merumuskan satu jawaban pasti. Itu semua merupakan tawaran terbuka, sebagai salah satu pandangan yang menghantar pembaca untuk berpikir dan bertanya ulang, lalu merumuskan alternatif keputusan dan pilihan. Melalui novel ini, ia seperti sedang mengajukan sebuah pertanyaan,"Jika pilihan-pilihannya semacam ini, bagaimana menurutmu?" Selanjutnya, pembaca diajak untuk menimbang dan mengambil keputusan sendiri.

Membaca novel yang ditulisnya ini, saya merasa seperti dibawa kembali ke masa lalu, ke ruang kelas sastra, di mana ia mengajukan tanya agar sebanyak mungkin murid-muridnya mengajukan jawaban yang berbeda-beda, dan dengan gembira hati, ia mewadahi dan menanggapi semuanya. Sekali lagi, ia sedang mengajak untuk berpikir, bertanya dan merumuskan alternatif jawaban.

Bahasa-bahasa Simbolik
Hal lain yang menarik, novel ini menyuguhkan bahasa-bahasa sim-bolik yang mengesankan dan mendalam. Ia merupakan bahasa yang tak terucap dalam kata, melainkan dalam perilaku, sikap, permainan musik biola maupun piano yang menghubungkan gerak dan dinamika jiwa. Ada kesalahpahaman, ada dugaan-dugaan yang memberi harapan, ada feeling yang membangun keterhubungan dan komunikasi meskipun tak dipahami dalam keyakinan yang pasti. Kemarahan bapak Kepala Sekolah terhadap perilaku tokoh Bulan yang dinilainya tak menunjukkan sopan santun di dalam ruang kelas, merupakan kesalahpahaman yang disebabkan oleh tiadanya pengenalan terhadap konteks psikologis sang murid. Kepala Sekolah tak berhasil mengenali bahwa perilaku Bulan itu sebenarnya merupakan cerminan dari bahasa kerinduannya terhadap sosok ayah yang telah hilang, yang sebagian sifatnya tampaknya ditemukan dalam diri Kepala Sekolah itu.

Permainan biola oleh tokoh Pak Suryo, nama tua tokoh Herman, adalah upaya seorang ayah untuk menggapai hati seorang anak perempuan yang secara kuat ia duga sebagai anaknya, namun telah tak mengenalnya lagi. Ini adalah komunikasi-komunikasi non verbal yang menggetarkan dan kuat, serta mengesankan. Pembaca diajak untuk melampaui kata-kata dan memasuki komunikasi simbolik yang mendalam dan penuh makna. Saya kutipkan penggalan narasinya yang mengesankan:

Bulan terus disibukkan oleh pikiran-pikiran tentang ayah. Saat matanya terus tidak bisa dipejamkan, saat kerinduan terus menja-lari pikiran dan hatinya, sayup-sayup ia dengar Nocturne Op 9, No 2 Chopin. Suara biola mengalun lembut dengan nada rendah berpindah ke nada tinggi, kembali ke rendah lagi mengalir dengan lembut. Nada-nada keluar dari jari-jari yang digerakkan dengan penuh perasaan. Pada akhir lagu nada bergerak dari lambat meng-alun menjadi cepat dan melengking.
Ada perasaan mendalam yang diekspresikan oleh pemain biola yang tak lain Pak Suryo. Bulan merasakan setiap tarikan nada ada getar dan desah kerinduan akan sesuatu yang jauh dan tak ter-jangkau. Ada pertanyaan, ada gugatan, tetapi sekaligus juga ada penerimaan yang diungkapkan dari nada-nada yang terucap di te-ngah malam.
Bulan jadi ingat cerita mama bahwa ayah suka sekali memainkan lagu Nocturne Op 9, No 2 Chopin itu. Pak Suryo seperti tidak sedang bermain biola biasa. Ia menyatakan jiwanya. Ia menyatakan jeritan hatinya. Jeritan hati yang rindu kepada orang yang dicintainya.
Tak terasa, saat lagu itu berakhir, air mata Bulan menitik. Dari mulutnya tergumam,”Kaukah itu, Papa?”

Ruang Terbuka untuk Menunda
Meskipun kisah dalam novel ini diakhiri dengan happy ending, terasa sekali bahwa setelah kalimat terakhir tuntas terbaca, masih tersedia ruang yang terbuka untuk menunda persetujuan, menunda pemaknaan, dan menghantar lagi kepada upaya untuk kembali berpikir dan bertanya, mengurai kembali jaringan peristiwa, menelusur pilihan dan keputusan yang disodorkan melalui para tokohnya dengan pertanyaan mengapa, bagaimana bisa, apa penyebabnya, faktor apa saja yang membentuknya, dan sebagainya. Banyak hal yang memengaruhi para tokoh dalam mengambil pilihan dan keputusan, memang tetap tersem-bunyi, tak diungkap secara detail dan rinci. Namun justru di situlah ruang dialog dan diskusi itu disediakan oleh novel ini. Ada ruang untuk mencoba menggali, menimbang, menelusuri, menduga, menemukan ke-mungkinan, mengidentifikasi relasi, dan memahami faktor-faktor yang memungkinkan peristiwa-peristiwa itu terjadi.

Oleh karena itu, sejauh saya pahami, Bulan Terbelah, adalah novel yang juga mencerminkan konsistensi antara penulis dan karyanya, yakni keduanya adalah subyek yang senantiasa membuka ruang untuk berpikir dan bertanya. Boleh dikata, setelah mencerna sampai pada kalimat paripurna, pembaca tetap dibuat merasa gelisah, berpikir ulang, menunda untuk percaya, dan tetap bertanya-tanya mengapa bisa demikian itu kisahnya.

Singkat cerita, Bulan Terbelah adalah novel yang juga berperan sebagai subyek yang senantiasa bertanya kepada pembaca dalam perspektif yang beraneka rupa. Pada gilirannya, pembaca yang menemukannya, dapat mengajukan kemungkinan dan alternatif jawaban dalam segudang sudut pandang: tentang relasi jender, tentang patriarki, kognisi sosial dan wacana kritis, relasi kuasa, tentang lack dan jouissance dalam psikoanalisis Lacanian, tentang otonomi pribadi, pandangan keagamaan, dan lain-lainnya.

Sudah pasti, novel kecil ini akan berlari mencari jalannya sendiri. Para pembaca akan menemukannya dengan perspektif yang beraneka rupa. Gunawan Sudarsono sebagai penulisnya, akan kembali diajak ke ruang-ruang kelas sastra seperti sedia kala, dengan cara-cara baru dan berbeda, namun dengan esensi yang sama, mengajukan atau mendengarkan tanya, sekaligus menuai temuan-temuan baru yang beragam dan kaya. Lalu sekali lagi prosesnya akan bergulir kembali, saling belajar dan berbagi pandangan tiada henti. Bahkan, sebagai penulis, ia akan dibawa ke dalam ruang bersama yang terbuka untuk belajar lagi dari karyanya sendiri.

Gunawan Sudarsono yang telah menulis novel kecil ini dan siapapun juga yang mengambil pilihan untuk membacanya, barangkali dengan gembira hati boleh mengingat-ingat dan merasakan kuatnya makna kata-kata Yesus kepada Marta, tentang pilihan Maria,"…..tetapi hanya satu saja yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Luk 10:42). Dalam konteks mencintai proses belajar, keputusan untuk menulis maupun membaca novel kecil ini merupakan salah satu tindakan memilih bagian terbaik yang tak akan diambil dari padanya. Semoga demikian adanya……***

Indro Suprobo, Editor

Rabu, 22 Desember 2021

Inner Journey, Perjalanan Jauh ke Dalam



Penulis: Ruy Pamadiken
Editor: Indro Suprobo
Terbit: Desember 2021
Ukuran: 14 x 20 cm, xiv + 178 hlm

Inner Journey, Perjalanan Jauh ke Dalam, adalah buku ketiga Ruy Pamadiken yang menawarkan cara berbeda dalam menghadapi realitas harian. Meminjam istilah yang digunakan oleh Abraham Maslow, seorang pengusung psikologi humanistik ternama, melalui narasi-narasi pendek yang ada di dalamnya, buku ini menawarkan cara menghadapi realitas harian dengan apa yang disebut sebagai Being-Cognition atau disingkat B-cognition, yakni memahami, mengenali, menyelami dan memaknai realitas harian dengan being, menjadi, terlibat secara mendalam dan partisipatif, menyatu di dalamnya secara keseluruhan, sehingga realitas harian itu menjadi terbuka, menyingkapkan dirinya, menawarkan kesatuan utuh dengan keseluruhan, dan melepaskan ikatannya dengan waktu linear, menjadi sebuah momen yang tak terbatas waktu, yang tersingkap dan terbuka senantiasa, ….menjadi timeless moment. Ia menjadi saat yang tak lekang oleh pembatasan waktu, menyatukan masa lalu dan masa depan dalam saat sekarang yang agung dan mendalam.

Melalui being-cognition, buku ini mengajak setiap orang yang membacanya untuk menghadapi realitas harian bukan semata-mata sebagai realitas instrumental yang menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lainnya, melainkan sebagai realitas yang menarik setiap orang untuk masuk ke dalam makna terdalam, mengalami kepenuhan, merasakan kesatuan dengan segala sesuatu yang berada di luar dirinya dan yang lebih besar dari dirinya. Dengan demikian Timeless Moment ini menjadi peak experience, sebuah pengalaman puncak yang membawa setiap orang kepada kepenuhan makna dan keutuhan dalam kesatuan dengan semesta.

Dalam tradisi Kitab Suci Kristen, cara menghadapi realitas harian seperti ini tercermin dalam pilihan Maria untuk duduk di dekat kaki Yesus, mendengarkan dan belajar dari-Nya. (Luk 10:38-42). Ini sebuah pilihan yang berbeda dengan pilihan Marta yang bersifat instrumental. Kedua cara menghadapi realitas harian ini, sebagaimana dipilih oleh Maria dan Marta, bukanlah pilihan yang beroposisi biner, bukan pilihan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk, melainkan sebuah pilihan dalam keseimbangan. Keduanya penting. Realitas harian musti dihadapi secara instrumental demi tujuan tertentu, namun sekaligus perlu dihadapi sebagai sabbath, saat hening dan saat kepenuhan.

Ruy Pamadiken dalam buku ini sedang menunjukkan dan mengajak para pembaca untuk menyelami proses keseimbangan itu. Kisah-kisah yang ditawarkan di dalam buku ini, dari dalam dirinya juga menarik pembaca untuk terlibat, menyelami, berpartisipasi, meresapi dan mencecap seluruh elemen pengalaman yang dikisahkan itu. Melalui cara ini, pembaca diajak untuk menjadi Maria yang mendekati sebanyak mungkin realitas harian sebagai timeless moment, yang dalam kitab suci dirumuskan dengan "bagian terbaik yang tak akan diambil daripadanya", dan pengalaman puncak yang menyediakan makna keseluruhan dan kepenuhan. Realitas harian yang dihadapi oleh penulis, ketika dibaca dan dinikmati, membuka dirinya menjadi pengalaman pembaca, menjadi peristiwa atau moment yang senantiasa terbuka bagi siapapun yang mau terlibat dan berpartisipasi di dalamnya, sehingga pembaca merasakan dan mengalami, serta menemukan semua yang berharga yang dapat ditemukan di dalamnya. Kegembiraan, air mata, ketakjuban, mukjizat yang bekerja secara tak dinyana-nyana, keterbatasan diri, kelemahan yang dibentuk oleh pembiasaan, semuanya dapat ikut ditemukan dan dialami sebagai pengalaman diri dan memasuki peak experience yang menyediakan "aha!".

Timeless Moment menjadi saat di mana realitas dan pengalaman harian dihayati dalam aktualisasi diri yang paling dalam, sehingga seluruh kekayaan yang tersembunyi di dalamnya, memancar, memenuhi seluruh kesadaran, berbicara dalam denting keheningannya yang paling sempurna, menyatakan dirinya, membiarkan diri ditemukan, dan pada gilirannya, menyediakan kebaharuan.

Timeless moment adalah undangan dan kesempatan yang senantiasa tersedia di dalam setiap realitas harian kita. Jika seseorang tak merasa terpanggil untuk menjawab undangan dan kesempatan itu, segala sesuatu yang tersedia di dalamnya, akan hilang lenyap. Ia hanya dapat dicecapi dan diselami oleh mereka yang memiliki kecintaan dan kemauan untuk memasukinya. Ia akan diselami oleh mereka yang senantiasa ikhlas untuk melangkah dalam perjalanan jauh ke dalam. Duc in altum.

Indro Suprobo
Editor

Rabu, 20 Mei 2020

Inner Journey, Selangkah Lebih Dalam



Penulis: Ruy Pamadiken
Editor: Indro Suprobo
Terbit: Mei 2020
Ukuran: 14 x 20 cm, xviii + 122 hlm

Inner Journey, Selangkah Lebih Dalam, adalah buku kedua yang ditulis oleh mas Ruy Pamadiken. Kali ini, beberapa artikel di bagian awal buku ini, ditulis bersama dengan ibu Rerie Lestari Moerdijat. Tampaknya, kedua penulis ini memiliki kemiripan baik dalam gaya penulisan maupun tingkat kedalaman pemaknaan. Keduanya melandaskan diri pada pengalaman nyata.

Setelah membaca dan mencermati kisah-kisah yang tertuang di dalam buku ini, ada satu hal yang saya pelajari sebagai pembelajaran penting, yakni keberanian menghadapi diri sendiri di dalam keheningan. Kehidupan modern yang menyediakan semakin banyak kemudahan, yang memperpendek jarak karena perkembangan transportasi dan media komunikasi, sekaligus memperluas pilihan-pilihan, pada gilirannya juga menciptakan ketakutan-ketakutan dan kecemasan. Salah satu ketakutan dan kecemasan yang paling menggentarkan untuk manusia modern adalah ketakutan untuk menghadapi diri sendiri dalam keheningan.

Ada banyak orang, meskipun tidak semua, yang merasa takut ketika menghadapi situasi tak ada pembicaraan, tak ada postingan di wa grup, ketika tak mengaktifkan televisi, ketika tak ada musik yang diputar, ketika tak ada berita yang dibaca, didengarkan atau ditonton, ketika tidak melakukan aktivitas apapun kecuali menghadapi dirinya sendiri. Keheningan yang menjadi kesempatan paling baik untuk bertemu dengan diri sendiri, untuk masuk dalam kesadaran penuh tentang diri, seringkali justru menjadi hal yang menakutkan dan menimbulkan kecemasan. Ketika menghadapi keheningan dan diri sendiri, sebagian besar orang, cenderung ingin segera melakukan kesibukan tertentu.

Mengapa demikian? Karena orang tak terbiasa dan tidak terlatih untuk menghadapinya. Menghadapi diri sendiri dalam keheningan, memasuki kesadaran penuh tentang dirinya, atau dalam judul buku ini dirumuskan dengan melangkah lebih dalam, merupakan pengalaman produktif yang membutuhkan latihan terus-menerus sehingga orang merasa terbiasa dan dapat menikmatinya. Pengalaman masuk ke kedalaman keheningan perlu dilatihkan karena di dalamnya orang akan menghadapi banyak hal yang seringkali tak diinginkannya, yakni realitas diri yang tak ideal, menghadapi gerakan-gerakan ketidaksadaran yang selama ini menuntun dan memotivasi sebagian besar pilihan-pilihan cara berpikir, bersikap dan bertindak. Oleh karena itu, menghadapi diri sendiri dalam keheningan membutuhkan keberanian.

Buku ini mengajak para pembaca untuk belajar melepaskan ketakutan dan kecemasan, lalu menyalakan keberanian untuk bertemu dengan diri sendiri dalam keheningan yang produktif. Hasilnya, akan ada banyak sekali kebaharuan, keindahan, pertumbuhan, kedamaian, keharuan, ketulusan, ketakjuban, tamparan, penyadaran, perubahan, dan transformasi yang ditemukan sebagai buah pembelajaran. Yang paling dahsyat, jika sekali saja seseorang telah berani memasuki kedalaman diri dengan seluruh tantangannya, ia akan semakin berani di hari-hari kemudian. Dengan modal itu, ia akan semakin berani menghadapi peristiwa-peristiwa di dalam hidupnya dan membacanya secara lebih jeli dan cermat sehingga menjadi peristiwa yang bermakna meskipun sangat sederhana. Siapapun yang takut menghadapi diri sendiri dan keheningan, pada umumnya cenderung memilih lari ketika menghadapi kenyataan. Buku ini mengajak pembaca untuk berani menghadapi keduanya.

Indro Suprobo - Editor

Rabu, 19 Februari 2020

Meretas Batas Antara Matematika dan Sastra



Secara pribadi, saya bersyukur telah terbit lagi sebuah antologi puisi karya seorang guru di DIY. Tepatnya, antologi puisi itu lahir dari rahim kreasi Ibu Fiati Yuwananingsih yang kelahiran Gunung-kidul dan kini bekerja sebagai guru mata pelajaran Matematika di SMPN 4 Tempel, Sleman. Dalam antologi ini, baik sebagai ibu maupun guru, beliau berhasil mencipta karya puisi sebanyak 41. Sebuah prestasi yang layak dicatat dan diapresiasi oleh para guru maupun siswa, baik di SMPN 4 Tempel, Sleman, maupun seluruh DIY.

Persoalannya, dalam proses belajar-mengajar di SMP/SMU, muncul berbagai stigma yang nyaris berkembang jadi mitos. Con-tohnya, mengenai matematika. Mata pelajaran ini sering dianggap “momok” gara-gara, konon, memelajari dan menguasainya sukar sekali. Akibatnya, matematika jarang disukai, bahkan cenderung “dibenci”. Demikian bencinya siswa-siswa dengan mata pelajaran ini sampai guru-guru matematika pun kadang ikut kena getahnya. Hubungan siswa dengan mereka jadi kurang akrab walau pribadi para guru matematika jelas tidak sekaku dan seangker mata pelajaran yang diampunya. 

Contoh kedua, pelajaran mengarang. Mulai siswa-siswa SMP/SMA, mahasiswa, guru, dosen, hingga masyarakat umum, banyak yang menganggap mengarang karya sastra (misalnya: puisi, cerpen, novel) juga sukar. Padahal, sastra sudah diperkenalkan kepada para siswa sejak Sekolah Menengah (meskipun menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia), sebagaimana matematika, IPA, IPS, olahraga, agama, dan lain-lain. Menurut mereka, membuat puisi seperti diciptakan Sapardi Djoko Damono, novel karya Y.B. Mangunwijaya atau cerpen yang ditulis Kuntowijoyo, ternyata tidak gampang. Bertolak belakang sekali dengan pernyataan sas-trawan yang juga jurnalis terkenal, Arswendo Atmowiloto, dalam bukunya: “Mengarang Itu Gampang”. 

Dua kasus di atas memberikan gambaran umum mengapa dunia karang-mengarang (mencipa atau kreativitas) dan matematika tidak banyak diminati. Antara lain:

Karena matematika dan mengarang dianggap sukar, banyak kalangan (siswa/mahasiswa/guru/masyarakat umum) jadi tidak menyukainya. Karena kurang suka, mereka enggan belajar sehing-ga dari waktu ke waktu pengetahuan dan ketrampilannya tidak berkembang. 

Mereka yang mengatakan mengarang itu gampang, tentu sudah mumpuni atau terampil. Sedangkan yang menganggap me-ngarang itu sulit atau sukar, jelas karena dirinya tidak (belum) bisa melakukannya. Dengan demikian, ukuran bahwa mencipta karya sastra itu sukar atau tidak sukar, sangat tergantung dari ke-mampuan/ketrampilan pribadi masing-masing.

Karena mengarang (sastra) hanya menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, banyak siswa jadi menganggap me-ngarang itu kurang penting (kurang perlu) dibanding Bahasa Inggris, Matematika, IPA, Biologi, dan lain-lain. Juga karena me-ngarang hanya jadi mata pelajaran, bukan mengarah ke dalam praktik.

Matematika dianggap sukar karena memahami soal dan rumusnya sulit. Sedangkan mengarang dianggap sukar karena hasil karangan yang dibuat kualitasnya sulit menyamai kualitas karya pengarang yang dijadikan panutan. Baik yang sudah dibukukan atau yang dimuat lembar kebudayaan koran mingguan maupun majalah sastra.

Mereka yang menganggap mengarang itu sukar (dan benar-benar kesulitan melakukannya), besar kemungkinan modal kecer-dasan untuk mengarang sangat minim. Menurut teori kecerdasan ganda dari Howard Gardner dalam Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligence (1983), ada tujuh tipe kecerdasan yang dimiliki manusia dan belakangan bertambah satu lagi. Yaitu: 1) Verbal/linguistic intelligence atau kecerdasan linguistik (bahasa), 2) Musical/rhytmic intelligence atau kecerdasan musikal, 3) Logical/mathematical intelligence atau kecerdasan logika-matematika, 4) Visual/spatial intelligence atau kecerdasan visual/spasial, 5) Bodily/kinaesthetic intelligence atau kecerdasan ragawi/kinestetik, 6. Intrapersonal intelligence atau kecerdasan intrapersonal, 7) Interpersonal intelligence atau kecerdasan interpersonal, dan 8) Naturalistic intelligence, keahlian mengkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungannya. 

Dari teori ini, dapat dibayangkan bahwa proses mengarang utamanya sangat memerlukan kecerdasan verbal/linguistic intelligence, kecerdasan intra dan interpersonal, serta kecerdasan lainnya. Kecuali (mungkin) bodily/kinaesthetic intelligence karena mengarang (mencipta) cenderung diam. Masih ditambah dimilikinya kepekaan pribadi, wawasan yang luas, kemampuan berbahasa, kemampuan berpikir dan kesabaran yang cukup untuk menunjang proses kreatif kepenulisannya. 

***

Ternyata, teori yang disampaikan Howard Gardner di atas nyaris dipatahkan, atau tidak berlaku bagi Ibu Fiati Yuwananingsih. Dengan latar pendidikan serta profesinya sebagai guru matematika, beliau justru mampu mencipta puisi, yang manakala dicermati karya-karyanya sudah menunjukkan pencapaian yang cukup berhasil. Karena dalam puisi-puisinya, terasa beliau sudah menemukan “momentum puitik” yang diwujudkan dalam bahasa (teks) yang singkat, padat, mempunyai kandungan nilai estetika dan ke-manusiaan tinggi. 

Sementara puisi-puisi dalam antologi ini juga telah menerapkan teknik penulisan puisi yang lumayan baik dan benar. Yakni, menya-takan suatu persoalan (permasalahan) secara tidak langsung dengan menggunakan bahasa puitik (bukan verbal) atau kata-kata yang bernilai rasa tinggi. Misalnya, melalui ungkapan (imaji), serta pemakaian gaya bahasa. Antara lain dengan memraktikkan penggunaan: 1) distorting of meaning (penyimpangan arti, seperti penggunaan ambiguitas dan kontradiksi), 2) displacing of meaning (penggantian arti, misalnya dengan menggunakan metafor dan metonimia), 3) creating of meaning (pengorganisasian teks di luar lingkup linguistik, seperti persajakan dan rima). 

Selanjutnya, manakala dikaji menggunakan kriteria penulisan puisi yang lazim dipakai dalam berbagai even lomba, karya Ibu Fiati Yuwananingsih dalam antologi ini juga telah mengisyaratkan adanya kelayakan ungkapan sebagai puisi yang baik. Misalnya, puisi yang baik tersebut memiliki kriteria: 

Memiliki harmoni antara wujud dan isi. Artinya, terjadi keseimbangan, atau ikatan yang indah dan serasi antara pesan yang disampaikan dengan cara menyampaikannya. Contohnya pada puisi “Layang-layang”. Pada bait pertama terdapat ungkapan: “Di pinggir lapangan aku duduk sendiri/Menikmati layang-layang yang menari-nari di tempat tinggi/Dikendalikan dengan menarik ulur tali pengendali agar hembusan angin dapat diimbangi/Sama dengan manusia/Diperlukan pengendalian diri menghadapi kehidupannya/Agar tidak terhempas karena masalah yang diterima.”

Pilihan dan penggunaan kata, bahasa, serta ungkapannya terasa pas (tepat). Sehingga tidak menjadi puisi gelap (obscure) atau sangat verbal, melainkan bersifat transparan. Contohnya pada puisi “Museum Vulkanologi”. Pada bait terakhirnya disajikan ungkapan yang pas dan serasi, berbunyi: ”Dengan melihat foto-foto peristiwa letusan dahsyat Merapi/ Menggunakan miniatur gunung Merapi/Ia menyusuri aliran lahar dengan jari/Aku tunjukkan rute pendakian yang resmi/Barangkali saatnya nanti ia ingin mencapai puncak Merapi.”

Greget kepenyairan terasa. Puisi memiliki roh atau power (kekuatan/élan vital) yang berasal dari energi penyair yang mewujud (mengejawantah) ke dalam berbagai unsur ke-puisian yang diciptakan. Contohnya pada puisi “Benteng Vredenburg”. Di sana terpapar jelas kekuatan penyair dalam menyatakan pesan menggunakan ungkapan puitik pribadinya. Artinya, dia tidak sedang menulis prosa atau nasihat, melainkan benar-benar menuangkan ide-idenya dalam bentuk puisi. “Jangan hanya batik dan pernak-pernik yang kau buru/Cobalah cari cerita seru untuk buah tanganmu/ Masuklah ke beteng Vredenburg, akan kau dapatkan itu/Kau dapat melihat film dokumenter di ruang pengenalan/Dengan media interaktif bisa juga memilih penggalan sejarah yang kau inginkan/Diorama-diorama menggambarkan perjuangan memperoleh kemerdekaan Indonesia.”

Terbayang otentisitas penyajian. Pesan maupun gaya kepenulisannya murni hasil penggalian kreativitas pribadi, bukan plagiasi. Artinya, memiliki orisinalitas yang tidak terdapat pada puisi karya orang lain. Contohnya pada puisi “Maafkan Aku”. Di sini ada ungkapan khas yang terasa otentik digali dan ditemukan dari hasil kreativitas pribadi. Sebuah pernyataan yang berbunyi: “Guruku/maafkan aku/ Jika semua itu aku lakukan padamu/Doaku semoga engkau selalu sabar dan tegar dengan sikapku/Kelak surga menjadi tempat tinggalmu.”

Ada pandangan (baru) yang ditawarkan. Artinya, tidak melakukan pengulangan (duplikasi) terhadap tema atau pemikiran yang telah digarap banyak orang. Contohnya pada puisi “Cadar”. Di sini terpampang jelas pandangan uniknya mengenai fenomena kehidupan yang ditemui. Pada bait pertama diutarakan: “Selalu bersama/Bergandeng tangan menyusuri jalan berdua/Menikmati indahnya semesta yang tiada duanya/Di bumi khatulistiwa.” Sedang pada bait terakhir disajikan realitas baru yang menarik: “Bumi diciptakan bundar/Setelah kita berpencar, kita berpapasan tanpa sadar/Hati pun bergetar/Namun mata tak mampu menembus wajah bercadar.”

Merangsang renungan lebih jauh tentang kehidupan. Memberikan pencerahan terhadap pembaca, sehingga pembaca terdorong untuk melakukan pemikiran positif ke depan. Contohnya pada puisi “Saat Jatuh”. Pada bait terakhirnya muncul ungkapan yang merangsang pencerahan sekaligus mirip petuah: “Kamu dapat mengingatkan diri sendiri/Melangkah hati-hati/Agar tidak terulang jatuh kembali.”

Demikian catatan singkat mengenai puisi-puisi Ibu Fiati Yuwananingsih dalam antologi ini. Semoga menjadi referensi literasi positif bagi para guru lain, juga para siswa, untuk mengukiti jejak-tapak beliau dalam berkreasi di bidang sastra, khususnya puisi.


Iman Budhi Santosa, adalah sastrawan

tinggal di Yogyakarta


Selasa, 10 Desember 2019

Menulis adalah Tindakan Integral, sebuah Epilog



 Oleh Indro Suprobo


Buku kumpulan karya tulis seminaris (siswa-siswa Seminari atau sekolah calon pastor) ini diberi judul Menulis untuk Mendidik Diri dan Berbagi, karena seluruh proses menuliskan karya ini merupakan proses menggali bahan-bahan pembelajaran (lessons learned) yang dapat digunakan untuk mendidik diri sendiri dalam tiga aspek dasar, yakni sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan) dan scientia (kecerdasan), yang pada gilirannya memberi manfaat bagi orang lain untuk mendidik dirinya sendiri juga.  Seperti kata pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, demikianlah sifat dasar yang dapat ditemukan dari proses menulis. Melalui satu aktivitas menulis, seseorang dapat menggapai dua hal sekaligus yakni mendidik diri sendiri dan berbagi kepada orang lain.

Lebih mendasar dari itu, aktivitas menulis adalah sebuah tindakan integral karena senantiasa melibatkan tindakan-tindakan fundamental yang lain. Seseorang yang hendak mengembangkan kapasitas menulis sebagai gaya atau jalan hidupnya, paling tidak ia musti mengembangkan kapasitas-kapasitas lain seperti membangun keheningan (silentium), membaca (lectio), menimbang-nimbang (discretio), mengambil jarak (distantia), dan terlibat secara empatik dalam pengalaman atau peristiwa atau isu tertentu (empathetic involvement). Semua elemen itu akan berada dalam satu tarikan nafas yang dibutuhkan oleh seorang penulis, lebih-lebih jika ia hendak menuliskan sesuatu yang penting, untuk memperjuangkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan keindahan dalam kehidupan. 

Orang yang mencintai aktivitas menulis, pada umumnya juga mencintai aktivitas membangun keheningan agar ia dapat mengambil jeda dan jarak atas pengalaman atau peristiwa, agar ia dapat mencermati hal-hal penting yang pantas dicermati, agar ia dapat mempelajari apa yang pantas dipelajari, mewaspadai dan mengkritisi apa yang dapat mengelabuhi pikiran, lalu mengambil nilai dasar yang perlu untuk melandasi pilihan dan keputusan yang diambil, lalu merumuskannya dalam tulisan. Agar terus-menerus dapat melakukan pertimbangan yang memadai dan matang, orang yang mencintai aktivitas menulis dengan sendirinya akan senantiasa melengkapi diri dengan informasi dan penge-tahuan yang dibutuhkan. Oleh karena itu aktivitas menulis akan membutuhkan aktivitas membaca. 

Informasi dan pengetahuan, selain diperoleh dari aktivitas membaca buku, juga dapat diperoleh dari aktivitas membaca dan mendengarkan secara langsung dari pengalaman di mana ia terlibat. Menggali informasi dari pengalaman langsung biasa disebut sebagai riset atau riset aksi. 

Seluruh elemen tindakan fundamental itu akan saling melengkapi dan saling membutuhkan serta berkorelasi secara sirkular (circle), sehingga semakin lama semakin maju dan berkualitas. Oleh karena itu, aktivitas menulis adalah sebuah tindakan integral yang penting, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. 

Pantas disyukuri bahwa Seminari Menengah Mertoyudan secara setia dan konsisten telah terus-menerus melatih para seminaris untuk membiasakan diri dengan seluruh elemen tindakan integral ini sejak dari hari pertama. Silentium (keheningan), lectio (membaca), menulis refleksi, dan keterlibatan empatik dalam pengalaman langsung seperti offisio (tugas-tugas dan tanggung jawab), ekstra kurikuler, Aquila (penerbitan majalah tiga bulanan), opera (kerja tangan), malam musik seminari, malam kreativitas, sidang akademi (latihan menulis makalah-presentasi-diskusi), dsb, adalah wujud-wujud konkret yang pantas dinikmati sebagai latihan dasar menjalani tindakan integral ini. Pada saat melakukannya sebagai bagian dari rutinitas di Seminari, sebagian seminaris barangkali menemui rasa malas atau tak menangkap manfaat fundamentalnya bagi hidup. Namun, setelah sekian tahun kemudian, bahkan puluhan tahun sesudahnya, manfaat itu tak akan dapat disangkal. Untuk hal itu, saya adalah saksinya. 

Sebagai sebuah tindakan integral, aktivitas menulis yang dihayati sebagai gaya dan jalan hidup, boleh juga disebut sebagai laku spiritual yang terus-menerus untuk membangun hidup menjadi semakin bertumbuh, mendalam dan berkualitas. Aktivitas menulis menjadi latihan rohani yang terus-menerus (on-going spiritual exercise) yang menjagai diri agar senantiasa menjadi manusia keheningan yang terus-menerus belajar, mendengarkan, menimbang, merumuskan, dan mengambil tindakan untuk terli-bat di dalam kehidupan secara berkualitas. 

Semoga, buku Menulis untuk Mendidik Diri dan Berbagi ini, menjadi bagian dari latihan panjang menjalani tindakan integral, on-going spiritual exercise, bagi para seminaris dan membawa kepada rasa syukur dan rasa cinta demi pertumbuhan diri yang semakin maju, mendalam dan berkualitas. Semoga para seminaris semakin mencintai aktivitas menulis sebagai jalan yang sunyi namun membahagiakan, menyelamatkan, dan membebaskan, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama.

Rabu, 23 Oktober 2019

Pro Eksistensi dan Konsistensi



Judul: Pro Eksistensi dan Konsistensi
Penulis: Indro Suprobo
Terbit: Oktober 2019
Ukuran: 14 x 20 cm, xvi + 362 hlm

Buku Pro-Eksistensi dan Konsistensi yang berada di tangan pembaca ini merupakan catatan-catatan reflektif atas sikap dan keberpihakan penulis terhadap nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu terutama terkait penghormatan terhadap martabat kemanusiaan, empati dan dukungan terhadap mereka yang terpaksa mengalami kemalangan, penderitaan dan pengasing-an, ketulusan dalam membangun persahabatan dan persaudaraan dalam begitu banyak perbedaan yang nyata, keterbukaan dan kerendahan hati untuk menye-lami spiritualitas dan religiositas agama-agama serta kepercayaan, dan sikap kritis terhadap semua hal yang bersifat korup dan manipulatif.

Semoga catatan reflektif ini sungguh mencerminkan pilihan keberpihakan dan loyalitas kepada nilai-nilai fun-damental kehidupan yang dapat membantu setiap orang untuk bertumbuh dan berkembang sebagai manusia yang bermartabat dan berharga di hadapan Tuhan, apapun per-bedaan dan keunikan yang dimilikinya. Dengan demikian Pro-eksistensi dan konsistensi adalah prinsip yang berpihak terutama kepada nilai fundamental kehidupan, bukan kepada orang, kelompok, atau golongan apapun.

Jumat, 18 Oktober 2019

Inner Journey



Penulis: Ruy Pamadiken
Editor: Indro Suprobo
Terbit: Oktober 2019
Ukuran: 14 x 20, xiv + 78 hlm

Raphael Udik Yunianto atau RUY Pamadiken, adalah seorang juru kamera kehidupan, yang sanggup memotret pengalaman dan peristiwa, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Oleh karena itu, buku yang disusunnya ini boleh disebut sebagai album kenangan, hasil bidikan kameranya.

Keahlian seorang juru kamera yang seringkali tidak dimiliki oleh orang lain adalah kepekaannya untuk melihat nilai yang tersembunyi dalam satu peristiwa. Orang lain barangkali tidak peduli kepada peristiwa itu dan tak melihat potensi tentang keindahan dan makna di dalamnya. Bagi seorang juru kamera, setiap peristiwa selalu merupakan undangan untuk ditangkap, dilihat lebih mendalam, dan didengarkan dalam kebeningan. Ketika "saat" atau momentum yang ditangkapnya itu dibagikan kepada orang lain, ia telah menjadi percikan peristiwa yang bermakna, dan bersuara, sehingga orang lain ikut menangkap dan mendengarkan isi terdalamnya. Bidikan kamera itu lalu menghantar orang lain menuju pengertian lebih mendalam, ketertarikan, perasaan yang menggetarkan, tremendum et fascinosum, kebahagiaan yang lembut, keharuan yang menyusup dalam diam, pengampunan, belas kasih, bahkan menggerakkan orang untuk melakukan tindakan berkualitas dan menghidupkan, moving and motivating.

Hasil bidikan sang juru kamera, pada gilirannya juga mempunyai fungsi sebagai undangan bagi setiap orang untuk berhenti sejenak, memandang, mencermati, memperhatikan, mendalami, mengenali secara lebih baik, merenung, mengunyah, dan menemukan nilai yang tak sempat ditemukannya pada saat peristiwa itu benar-benar berlangsung. Hasil bidikan sang juru kamera, juga merupakan undangan untuk mengambil jarak, membangun distansiasi, mengajak orang untuk melakukan detachment, melepaskan rasa lekat diri yang tak teratur terhadap segala sesuatu, dan menempatkan peristiwa-peristiwa itu di dalam kerangka yang lebih besar, saling terkait, saling terjaring, sehingga tersusunlah sebuah pemahaman yang integral.

RUY PAMADIKEN, sebagai juru kamera peristiwa hidup, telah berupaya membangun galeri pengalaman dan peristiwa melalui buku ini. Buku galeri dan album pengalaman ini sebagai keseluruhan merupakan ajakan kepada setiap orang untuk terlibat secara lebih cermat di dalam pengalaman hidup masing-masing dan menikmatinya, serta merangkainya sebagai sebuah laku spiritualitas integral, yakni spiritualitas hidup yang memandang dan menempatkan pengalaman-pengalaman tidak secara terpisah-pisah atau terkotak-kotak, melainkan saling terhubung, saling memperkaya makna, dan saling mengutuhkan.

Saya percaya, buku album dan galeri pengalaman hidup ini adalah buku yang akan senantiasa nikmat untuk dibaca berulang-ulang dalam banyak kesempatan, terutama dalam keheningan dan kesunyian, karena akan selalu relevan dan menyediakan nilai yang baru serta kaya. Maka pantaslah bahwa buku ini diberi judul Inner Journey, sebuah perjalanan ke dalam menuju kedalaman, karena seluruh isi buku ini mengajak para pembaca untuk semakin berani belajar menghayati silentium, solitudo, bersunyi diri untuk "memasuki pengalaman keheningan agar semakin sanggup mendengarkan isi terdalam dari segala keramaian".

Indro Suprobo, penulis artikel dan editor buku